Jumat, 25 Januari 2013

PROSPEK PROFESI GURU DALAM DUNIA PENDIDIKAN

PROSPEK PROFESI GURU DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Oleh : M. Akhirul Maulid

Guru merupakan salah satu profesi yang sangat erat kaitannya dengan persoalan moral. Selain sebagai suri tauladan para siswa siswinya, seorang guru juga dituntut bisa memberikan kontribusi yang baik di lingkungan sekitarnya. Karena, ketika sudah berprofesi sebagai guru, perilaku keseharian tidak luput dari disorot masyarakat di sekelilingnya. Pendek kata, selain menjadi panutan para anak didiknya, seorang guru juga harus pintar menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari serta mampu memberikan citra baik sebagai seorang guru.
Diakui atau tidak, secara kultur, masyarakat kita masih belum sepenuhnya bersikap obyektif  dalam memberikan penilaian. Sehingga guru tidak hanya berada pada lingkungan sekolah saja, tetapi profesi tersebut melekat secara otomatis di manapun mereka berada. Tentunya, ini merupakan tuntutan luar dalam bagi seorang yang berprofesi sebagai guru untuk dapat menjaga sikap dalam tata pergaulannya.
Peran guru memang bukanlah peran yang mudah untuk sekedar dilakukan begitu saja. Selain sebagai pendidik, guru berperan juga sebagai tenaga pengajar yang harus mampu menciptakan karakter lebih baik bagi anak didiknya. Jika perannya hanya sebagai tenaga pendidik, seorang guru cukup memberikan materi pelajaran dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah sesuai kurikulum yang ada.
Tetapi guru di sini bukan sekedar menyampaikan apa yang harus disampaikan, melainkan guru harus mampu pula menstransferkan ilmunya pada tahapan benar-benar diterima (accepted) oleh siswa siswinya. Hal ini sangat membutuhkan kemampuan psikologis yang cukup agar dapat memahami daya tangkap anak didiknya.
Selain itu, sebagai seorang guru dituntut pula mampu mendiskripsikan satu persatu tentang kondisi saat di hadapkan pada kondisi anak didik yang semakin hari semakin berkembang, baik pola pikir, pergaulan, serta sikap kritis. Pendiskripsian tersebut harus lebih lentur (fleksibel) dan bijaksana. Artinya, seorang guru tidak diperkenankan merasa paling pinter, ataupun merasa terpojokkan oleh sikap kritis siswa siswinya sehingga muncul sikap arogan, oportunis bahkan intimidasi hanya karena merasa tersinggung.
Menengok peran profesi guru yang tidak bisa dianggap remeh, tentunya diperlukan penilaian yang obyektif terhadap para guru berikut kodratnya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan motivator.
Nampaknya kebijakan pemerintah saat ini sudah mengarah ke sana, dengan terus meningkatkan kwalitas dari segi sektor pendidikan guna menghasilkan calon-calon tenaga pendidik yang handal dan profesional. Selain itu peran pemerintah sebagai  penghasil guru pendidik yang berkompeten pemerintah terus berupaya memberikan berbagai fasilitas guna kenyamanan dalam mengajar dengan tujuan menarik minat seseorang untuk memilih profesi sebagai guru. Diantaranya dengan terus meningkatkan tunjangan kepada guru pendidik yang benar-benar komit dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik.
Tunjangan tersebut bukan semata-mata untuk menarik minat ataupun membuat para guru merasa nyaman berada di lingkungan sekolah melainkan untuk memotivasi para guru pendidik agar mampu memberikan pengajaran dengan maksimal. Dengan berbagai langkah tersebut pemerintah berupaya menghilangkan kesan profesi guru yang menjenuhkan lantaran kesehariannya dihabiskan dengan tumpukan buku materi. Maka dari itu tidak ada alasan untuk menghindari profesi sebagai guru pendidik yang dianggap terlalu formal dan terkesan membosankan.

0 komentar: